Dear UN,
UN kamu itu egois banget sih, udah ngambil banyak kesempatan dan waktu waktu menyenangkan. Inget ya UN, kamu tuh ga berhak buat nentuin kita lulus atau nggak. Tau apa kamu tentang kita, kalau kamu hanya bersama kita hanya 4 hari?
Satu pelajaran 40-50 soal, itu pantas buat menentukan kita lulus atau gak ? Kalau nyatanya soal-soal itu hanya beberapa yang yakin bisa kami kerjakan, bukan karna kami bodoh, kami belajar selama tiga tahun! Kami hanya manusia biasa yang hanya bisa menginput hal hal yang sudah terbiasa di otak kami, bukan beberapa soal yang lebih sulit 10% itu. Bukan disitu masalahnya. Masalahnya kadar kecerdasan tiap orang itu beda-beda.
Kelulusan yang dinilai harusnya bukan hanya kecerdasan saja, tapi meliputi spiritual dan mental. Jadi kesimpulannya UN ga pantes buat nentuin lulus atau gak.
Bayangkan waktu yang disediakan hanya 90 menit, kita butuh membaca, butuh menganalisa, kita juga menginginkan yang terbaik. Tapi UN mengekang kami hanya dengan beberapa soal dan beberapa menit waktu.
Hah kamu tuh ga berhak buat menentukan kelulusan kami.
Kamu cuma berhak jadi pemetaan mutu, disitu saja langkah mu jangan ikut-ikut menentukan masa depan dan harapan mulia kami.
Harusnya UN itu di kondisikan seperti kita mengisi psikotest harus jujur apa adanya dan hasilnya tidak mempengaruhi lulus atau tidak, tapi menentukan sudah sampai mana kualitas sebenarnya.
Kita butuh mutu pendidikan Indonesia sebenar-benarnya.
UN kamu itu bukan sekedar ujian nasional saja, tapi ujian mental bagaimana kita berusaha untuk tidak menggunakan cara-cara curang itu, tapi apalah daya kau terlalu memonopoli sebagian mental anak Indonesia yang runtuh sekejap dengan maraknya kunci jawaban.
Astaga, bobrok! Mengenaskan!
Yth.pemerintah pendidikan
Semuanya terpusat dari anda, karena anda adalah penentu kebijakan. Cerdaslah sedikit. Kreatiflah sedikit. Nyata lah sedikit. Iya sedikiiiiit saja. Buka mata, hati, telinga.
Anda ingin kebenaran atau kemenangan?
Buat PERUBAHAN !
Setelah UN
Kami masih memikirkan bagaimana hasilnya, resah, gelisah, melakukan hal-hal menyenangkan namun semuanya hanya seperti hiburan sesaat. Palsu. Kami memikirkan bagaimana hasil UN. Kami terperangkap dalam semu nya hasil UN yang akan menentukan masa depan.
Ya Allah..
Berikanlah kebijakan terhadap semua ini, kami korban mental dan pikiran.
Selamatkan lah kami semua seluruh anak Indonesia.
Luluskanlah UN kami semua.
Bahagiakanlah kami dengan nilai UN yang memuaskan hasil pengorbanan dan perjuangan kami.
Cemerlangkan lah masa depan kami.
Bahagiakanlah kami dan orang tua kami.
-Doa ku untuk seluruh anak-anak Indonesia-
Ingat kawan, apapun hasilnya nanti harus tetap kita hargai. Kita harus tetap melangkah dalam jalur yang benar.Oya ada pepatah seperti ini, "yang berkilauan belum tentu emas"
UN kamu itu egois banget sih, udah ngambil banyak kesempatan dan waktu waktu menyenangkan. Inget ya UN, kamu tuh ga berhak buat nentuin kita lulus atau nggak. Tau apa kamu tentang kita, kalau kamu hanya bersama kita hanya 4 hari?
Satu pelajaran 40-50 soal, itu pantas buat menentukan kita lulus atau gak ? Kalau nyatanya soal-soal itu hanya beberapa yang yakin bisa kami kerjakan, bukan karna kami bodoh, kami belajar selama tiga tahun! Kami hanya manusia biasa yang hanya bisa menginput hal hal yang sudah terbiasa di otak kami, bukan beberapa soal yang lebih sulit 10% itu. Bukan disitu masalahnya. Masalahnya kadar kecerdasan tiap orang itu beda-beda.
Kelulusan yang dinilai harusnya bukan hanya kecerdasan saja, tapi meliputi spiritual dan mental. Jadi kesimpulannya UN ga pantes buat nentuin lulus atau gak.
Bayangkan waktu yang disediakan hanya 90 menit, kita butuh membaca, butuh menganalisa, kita juga menginginkan yang terbaik. Tapi UN mengekang kami hanya dengan beberapa soal dan beberapa menit waktu.
Hah kamu tuh ga berhak buat menentukan kelulusan kami.
Kamu cuma berhak jadi pemetaan mutu, disitu saja langkah mu jangan ikut-ikut menentukan masa depan dan harapan mulia kami.
Harusnya UN itu di kondisikan seperti kita mengisi psikotest harus jujur apa adanya dan hasilnya tidak mempengaruhi lulus atau tidak, tapi menentukan sudah sampai mana kualitas sebenarnya.
Kita butuh mutu pendidikan Indonesia sebenar-benarnya.
UN kamu itu bukan sekedar ujian nasional saja, tapi ujian mental bagaimana kita berusaha untuk tidak menggunakan cara-cara curang itu, tapi apalah daya kau terlalu memonopoli sebagian mental anak Indonesia yang runtuh sekejap dengan maraknya kunci jawaban.
Astaga, bobrok! Mengenaskan!
Yth.pemerintah pendidikan
Semuanya terpusat dari anda, karena anda adalah penentu kebijakan. Cerdaslah sedikit. Kreatiflah sedikit. Nyata lah sedikit. Iya sedikiiiiit saja. Buka mata, hati, telinga.
Anda ingin kebenaran atau kemenangan?
Buat PERUBAHAN !
Setelah UN
Kami masih memikirkan bagaimana hasilnya, resah, gelisah, melakukan hal-hal menyenangkan namun semuanya hanya seperti hiburan sesaat. Palsu. Kami memikirkan bagaimana hasil UN. Kami terperangkap dalam semu nya hasil UN yang akan menentukan masa depan.
Ya Allah..
Berikanlah kebijakan terhadap semua ini, kami korban mental dan pikiran.
Selamatkan lah kami semua seluruh anak Indonesia.
Luluskanlah UN kami semua.
Bahagiakanlah kami dengan nilai UN yang memuaskan hasil pengorbanan dan perjuangan kami.
Cemerlangkan lah masa depan kami.
Bahagiakanlah kami dan orang tua kami.
-Doa ku untuk seluruh anak-anak Indonesia-
Ingat kawan, apapun hasilnya nanti harus tetap kita hargai. Kita harus tetap melangkah dalam jalur yang benar.Oya ada pepatah seperti ini, "yang berkilauan belum tentu emas"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Pilih ANONIM untuk mengirim komentar :jika ingin dirahasiakan nama pengirim atau jika anda menemukan kesulitan dalam mengirim komentar: Well i am wait...